Recent Posts

Recent Comments

    Meta

    28th August 2008

    Membaca The Secret ditambah dengan menonton DVD-nya, mengingatku pada satu training yang pernah aku ikuti sekitar tahun 2003. Tema pastinya aku kurang begitu ingat, yang jelas isinya tentang bagaimana memanipulasi pikiran untuk mengubah apa yang kita rasakan dan mewujudkan gambaran manipulasi pikiran itu ke realita. Tak jauh beda dengan buku Being Happy sebenarnya, tetapi The Secret berhasil menggugah pikiran atau lebih tepatnya menyadarkan kita akan adanya satu rahasia yang sebenarnya bukan sungguh-sungguh rahasia.Di buku ini apa yang terjadi di dunia yang diakronimkan menjadi alam semesta (universe) merupakan hasil dari hukum gaya tarik menarik (reaction law). Apa yang engkau pikirkan itulah yang akan engkau dapatkan. Alam semesta akan merespon apapun, catat: APAPUN yang kita inginkan sebesar apapun keinginan itu. 

     

    Rhonda Byrne seolah menuntun kita untuk bermimpi, mengajak kita untuk berkhayal bahkan mempecundangi semua imajinasi akan semua hal yang kita inginkan. Ia dan para “pembicara” di buku itu begitu antusias meyakinkan jika semua yang diinginkan oleh setiap orang itu ada di depan mata, karena masing-masing individu adalah the great creator, the great power. Setiap manusia pikiran mempunyai frekuensi dan frekuensi itu akan ditanggapi oleh alam semesta dan menghadirkannya ke hadapan kita dengan cara yang mungkin tidak pernah kita duga. Ibaratkan dirimu bagai sebuah magnet yang akan menarik apapun yang sejenis dengannya, begitu pula alam semesta ini bekerja untuk manusia. Apapun yang engkau pikirkan, tanpa disadari sudah engkau tarik ke dalam dirimu.

    Tidak ada yang benar-benar baru sebenarnya, Islam sudah mengajarkan itu jauh sebelum itu disebut rahasia yang terkubur. Bagaimana Allah meyakinkan kita, apapun yang kita minta pasti akan dikabulkanNya. Entah dengan jalan yang kita rencanakan atau pun dengan jalan yang tidak pernah kita duga-duga sebelumnya. Dan, Alhamdulillah aku sangat sangat percaya hal itu. Seperti kata sebuah lagu; Apa yang terlihat mustahil bagiku, itu sangat mungkin bagi-MU.

    Jadi teringat (lagi-lagi) Andrea Hirata, bagaimana pada triloginya dilukiskan Jimbron yang tergila-gila dengan kuda, cita-cita Ikal & Arai untuk bersekolah di Sorbonne, hingga keinginan si Ikal untuk menginjakkan kaki di Edensor. Semua tercapai, karena sejak kecil semua cita-cita itu terngiang-ngiang di otak otak mereka dan direspon oleh alam semesta (Allah SWT), tanpa pernah mereka sangka sebelumnya. Seperti kata Arai; Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

    So, tekadkan untuk memulai bermimpi tanpa apapun, tanpa jalan, tanpa cara karena jalan dan cara itu akan dibuatkan olehNya. Mulailah mencanangkan semua keinginan,lepaskan sejuta pikiran buruk yang justru akan menarik kita ke arah yang lebih buruk. Yakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin, because you are the only one who creates your reality and remember wheather you think you can or you can’t either way, you are right (The Secret, 2007)

    Post tags:

    28th August 2008

    Ini satu kisah tentang persaudaran, cinta, kasih sayang, kesetiaan, perjuangan, balas budi, keajaiban, kepengecutan, penyesalan, penebusan dosa dan takdir (again!)  yang begitu luas tetapi digambarkan dengan sangat detail dengan karakter tokoh yang kuat oleh Khaled Hosseini. Mengaduk-ngaduk emosi hingga terkadang membuatku seakan tidak sanggup untuk melanjutkan membaca. Pesan sponsor pertama; jangan baca kalau takut sedih.   The Kite Runner bercerita tentang kehidupan dua anak Afganistan  (Hassan dan Amir) yang awalnya digambarkan datang dari kasta berbeda.  Sarat pesan moral ketika Hassan  berani mempertaruhkan martabatnya demi Amir yang kemudian merubah seluruh kehidupan keduanya.  Dan pengorbanan itu hanya mampu diungkapkan dengan kata-kata : Untukmu keseribu kalinya.   Sebagai pembaca buku tetapi bukan penikmat bacaan perang dan politik, aku mencoba mengabaikan dua hal tersebut yang sedikit menjadi latar belakang buku ini. kite-runner.jpg

    Kemudian, dihantui rasa bersalah dan penyesalan -tetapi berselubung jiwa yang pengecut- ternyata ada kuasa lain yang berkata.  Dua puluh tahun kemudian, dimana dunia bak roda yang berputar, pengorbanan lebih berat harus dilakukan Amir atas nama kesetiaan, penebusan dosa dan darah persaudaraan. Berhasilkah ?  Dan…. ternyata, selalu ada jalan menuju kebaikan kembali. Walau itu harus ditempuh dengan perjalanan ribuan kilometer dengan pengorbanan darah dan air mata.  Meskipun bersetting Afganistan dan Amerika yang jauh dari latar belakang Indonesia buku kecil ini tetap saja mampu mengukuhkan betapa tali cinta kasih adalah kekuatan universal yang kecil namun bisa mengubah segala hal besar di dunia. 

    Lalu, siapa bilang selamanya film itu “lebih buruk” dibandingkan bukunya ? Meski tidak sedetil buku (tentu saja karena film terbatas), The Kite Runner versi layar perak bisa menampung semua point-point penting yang ada dalam top of mind pembaca bukunya.  Meskipun dibangun dengan plot yang melompat-lompat tapi tetap tidak keluar dari jalur buku. Tapi pesan sponsor kedua, tetap alangkah baiknya, habiskan dulu bukunya, baru nonton filmnya.  Oya, bukunya sudah diterjemahkan ke 42 bahasa dan si penulis sempat dianugerahi Humanitarian Award 2006 oleh UNHCR. Jangan lupa Bang Ikal pada Talkshow di Banda Aceh beberapa waktu lalu pun, sempat sedikit menyinggung buku bagus ini (Andrea Hirata, again!!!!!!)

     

     

     Hanya ada satu dosa yang paling besar di dunia, yaitu: Mencuri.

    Kalau kau membunuh seorang pria; maka kau mencuri kehidupannya.

    Kau mencuri seorang istri dari suaminya, maka kau juga merampok seoarang Ayah dari anaknya.

    Kalau kau menipu, maka kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran dan…

    Kalau kau berbuat curang, berarti kau mencuri hak orang untuk mendapat keadilan. 

    Pesan sponsor ketiga;  Maka janganlah “mencuri”, kecuali terpaksa :D  

    Thank you buat Mas Rizya yang sudah rela dititipin! Besok-besok lagi, ya mas!    

    published on http://ngobrol.vikaoctavia.com/2008/02/selalu-ada-jalan-menuju-kebaikan-kembali-there%e2%80%99s-a-way-tobe-good-again/

    Post tags:

    28th August 2008

    Sebetulnya, buku ini sudah direkomendasikan oleh beberapa teman sebelumnya. Kalo ke toko buku, buku ini juga sering menclok di display paling depan.  Tapi gue  udah nyaris terlanjur apriori terhadap buku-buku yang ditulis oleh bukan penulis (baca: orang yang udah punya talenta istimewa lain selain menulis), seperti bukunya Melly Goeslaw yang judulnya: ARGHHHH…. Duh, maaf Mbak Melly, kayaknya lu nulis lagu dan nyanyi aja udah sangat luar biasa, jadi gak usah nambah –nambah lahan nulis cerpen segala.  Pokoknya kata gue sih… “gak banget” :P  Lalu ada kumpulan puisinya si Oneng,  belum lagi buku buku karya perempuan perempuan cantik produk kontes kontes yang katanya (katanya loh…) mengandalkan 3B (brain, beauty & behaviour). Sorry, gak seselera abis sama gue. Ada juga sebuah novel yang dikarang oleh seorang arsitek muda yang lagi naik daun, berasa terlalu mengada-ngada dan kesimpulannya “aneh”.

     

     

     

      Buat gue, Tamara punya genre sendiri. Meskipun tema-tema ceritnya cenderung ajaib, (mungkin) mustahil terjadi , jauh dari bayangan manusia “normal”, tetapi ia berhasil menciptakan bacaan yang tidak monoton dan bisa dimengerti pembaca awam. Sorry, ada beberapa penulis yang katanya (katanya ..lagi), punya nama besar, dapet penghargaan anu dan anu tapi baca bukunya membosankan dan mungkin hanya bisa dimengerti dia dan golongannya saja.   Biasalah.., besar karena dibesar-besarkan oleh media  (don’t worry bang Ikal, you’re not one of them.. ).  Sementara  gue, yang merasa jauh (heheheh….. ) dari kehidupan hedonis yang menaungi buku ini tetap bisa “tune in” di cerita cerita yang ajaib ajaib itu.

    Herannya, waktu baca buku si Mbak Tamara ini, gue mo bilang: Amazing! Meskipun didalamnya terjadi benturan antara moral dan kenyataan, tapi gue pengen bilang; Tamara bener bener GILA!  Heran aja darimana dia bisa dapet pikiran dan inspirasi yang begitu LIAR terhadap buku yang diembel-embelin tulisan “untuk pembaca dewasa” ini.   Bukan melihat dari tema kehidupan urban yang nyaris “lack of morality” yang diusung buku ini. Tapi dari pemilihan kata-kata yang lugas, tajam (wah..kok mirip slogan Liputan 6, yak), dari imajinasi dia yang tidak bisa ditebak dan membuat pikiran membacanya meloncat loncat seperti alurnya serta diiringi rasa penasaran yang amat sangat tentang ujung akhir setiap cerita.

     

     

      

     

     

     Lihat beberapa kutipan kalimatnya berikut ini:

    -  “Kampret,..dasar laki laki!! Selalu merasa dirinya bintang!! Jika mereka bintang, maka ijinkan aku jadi Tuhan dan akan kuciptakan langit cukup terang hanya dengan sebuah bulan!” :D

    -  Ayahku selalu berpesan untuk mencari laki-laki yang fisiknya biasa-biasa saja. “Nak, laki-laki lebih bagus dari monyet saja sudah cukup”. Makin dewasa, aku pikir ayah makin benar. Sejak itu aku mencari monyet untuk kujadikan suami. Sayang monyet binatang langka. Aku lebih banyak bertemu buaya darat, ular berkepala dua atau serigala berbulu domba.

    - Aku mungkin saja laki laki yang tidak menyenangkan atau memuakkan di mata sebagian orang. Tapi, aku tidak main main dengan dirimu, cantik. Bagiku hanya bencong yang hobi main-main. Aku laki laki. Aku mampu membuatmu bahagia, seperti aku mampu membuatmu hamil.

     

    published on http://ngobrol.vikaoctavia.com/?s=tamara

    Post tags:

    28th August 2008

    Jujur, aku sebenernya bukan penggila buku, hanya doyan baca buku just to killing time. Bukan pula sekte orang-orang pandai, pembaca buku-buku berat yang membuat kening berkerut ketika baru halaman pertama dibuka. Kalo diinget-inget waktu masih kecil, SD atau SMP, aku pernah bilang sama (Alm) Papa, kalo suatu hari aku pengen banget punya toko buku, at least tinggal disamping toko buku. Ah.cerita lama. At the end, sebuah cerita yang menjadi salah satu milestone hidupku di akhir 2004, menggiringku menjadi pengunjung setia Gramedia Bogor. Blessing In Disquise!! Thank for that bad guy! 
     
    Maka, dimulailah perburuan buku-buku gak penting, buku-buku teenlit, ciklit yang sejenisnya dilakukan. Sungguh, gak banyak yang bener-bener berkesan buatku kecuali Jomblo by Adhitya Mulya (yang akhirnya di-film-kan) dan satu karya istrinya; Ninit Yunita; “Kok Putusin Gue” yang “Gue Banget” Dua karya yang menurutku bener-bener “menginjak bumi”. Oya, karena akhir taun 2004 itu masa-masa yg berat buat kehidupan pribadi dan pekerjaanku mulai-lah pula aku membaca buku psikologi praktis tentang manajemen simple, self confidence dan buku-buku sejenis yang secara general bertema “how to bangkit dari keterpurukan” hahahha… Change dari Rhenald Kasali adalah the inspiring book dalam hidup pekerjaan gue dan Being Happy dari Andrews Matthew adalah kitab penunjuk menikmati hidup fana ini.

    Singkat cerita, setelah Da Vinci Code yang sempat menjadi fenomena di dunia, baru 2007 dan di Aceh (catat di Aceh, meski belinya di Jakarta) ini aku menemukan buku yang sungguh-sungguh memuaskan dahaga-ku akan satu buku yg mampu menghanyutkanku ke masa dimensi lain, membawaku ke dalam aliran ceritanya, menenggelamkanku dalam khayalan, memabukkanku hingga larut malam hingga sungguh-sungguh membuatku tergila-gila pada penulisnya. Mungkin aku sudah masuk dalam sekte penyakit gila no 29 yaitu tergila gila pada buku dan penulisnya! Meniru tagline Da Vinci Code yang “menggugah nalar, mengguncang iman”; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor and the next Maryamah Karpov sungguh tidak menggugah nalar apalagi mengguncang iman. Tetralogi ini hanya mampu menggugah hati nurani dan mengguncang imajinasi. Meski demikian tentu saja sangat layak mendapat 4 jempol sekaligus dan puja puji yang bukan basa basi.

    Andrea Hirata hanya bertutur tentang kisah biasa dari orang biasa dengan kejadian yang sangat biasa, bahasa biasa bahkan sangat biasa hingga bisa dimengerti oleh orang dari lapisan yang biasa. Tetapi justru karena “kebiasaan” itu membuatnya menjadi tidak biasa bahkan luar biasa. Bingung ?? Biasa kok, kalo gak biasa baca pasti bingung… Hehehhehe..

    Buku ini adalah buku biasa yang wajib direkomendasikan untuk semua orang yang mengerti arti sebuah perjuangan dalam hidup, percaya akan mimpi, menghargai kesetiaan, menjunjung tinggi kasih sayang, merasakan indahnya cinta dan tentu saja mengaliri hidupnya dengan ajaran-ajaran Islam yang sempurna. Finally, I’m speechless;.. Andrea Hirata; I love you..

    Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” -Arai (Edensor)

    Post tags: